Mengapa saya gabung di oriflame
Another story di sini: www.oriflame.co.id dan http://shrieamriza.com.
Bobby (nama samaran) adalah seorang Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, seperti biasa ia tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya Bagas, putra pertamanya yang baru duduk di kelas satu SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur?" sapa Papanya., biasanya Bagas memang sudah lelap ketika papanya pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Bagas menjawab, " Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"
"Lho, tumben, kok nanya gaji Papa segala? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja."
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-./hari. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?" Bagas berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika Papanya beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Bagas berlari mengikutinya. "Kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu
jam Papa digaji Rp 40.000,- dong," katanya. "Wah, sekarang kamu sudah pinter menghitunya ya.... Sudah sana, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Papanya.
Tetapi Bagas tak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Bagas kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"
"Sudahlah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah." "Tapi, Papa..." Kesabaran Papanya habis sudah. "Papa bilang tidur! ya tidur !" hardiknya mengejutkan Bagas. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Papanya nampak menyesali apa yang baru saja dilakukan pada anaknya. Ia pun menengok Bagas di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Bagas didapatinya sedang menangis terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Papanya berkata,
"Maafkan Papa, ya Nak. Papa sayang sekali sama Bagas. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan masih bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun akan Papa kasih."
"Papa, aku nggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini." "Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Bobby lembut.
"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-, maka dalam setengah jam aku harus membayar Papa Rp 20.000,-.
"Uang tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Papa".
"Aku hanya ingin sekali bermain bersama papa, setengah jam saja, dan nanti aku janji dech akan bayar Rp.20.000,- untuk waktu papa yang terbuang bermain bersama aku" Boleh ya Pa...?" katanya polos sambil memohon pada papanya.
Sang Papa tiba-tiba terdiam tubuhnya tiba-tiba gemetar dan bibirnya seketika terkunci rapat tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun.. Segera ia berlutut lalu di dekapnya bocah kecil itu erat-erat, tak terasa airmatapun menitik dari sudut matanya.
Malam itu sepertinya ia mendapatkan pelajaran yang begitu berharga dari seorang bocah kecil tercintanya akan apa arti cinta kasih yang sesungguhnya.
Masihkan kita berpikir uang lebih bisa membahagiakan anak kita..?
Para orang tua dan guru yg bijaksana,
TAFT DAN KERAS dalam mendidik adalah dua hal yg berbeda.
Taft adalah mendidik anak untuk bisa memiliki daya juang, sementara keras adalah lawan kata dari lembut. Kita bisa mendidik anak untuk memiliki daya juang yg tinggi tanpa harus dengan cara kekerasan atau hukuman. Anak yg taft atau memiliki daya juang tinggi adalah anak yg pantang menyerah tapi bukan tidak mau kalah.
Begitu yg pernah di ucapkan oleh Mendiang Winston Churcil dalam Pidatonya di hadapan 5000 wisudawan Oxford University. Orang yg Taft adalah orang yg NEVER...NEVER AND NEVER GIVE UP !!!. Winston Churcil meskipun ia adalah salah satu contoh orang yg sangat Taft membela negaranya dari Gempuran NAZI Jerman pada perang dunia II, namun ia memiliki pribadi yg sangat lembut.
Kembali lagi pada Doa untuk puteraku, ini adalah sebuah doa yg mencerminkan upaya lahir bathin dari orang tua yg TAFT untuk bisa mendidik anaknya menjadi anak yg taft juga, yakni anak yg memiliki daya juang tinggi.
Namun sayangnya yg sering kali terjadi pada sistem pendidikan dan pola asuh orang tua adalah menyamakan arti TAFT dengan Keras. Sehingga cara2 yg di pilih menggunakan kata2 yang keras, suara yg keras dan hukuman yg keras baik fisik atau non fisik.
Pernah ada guru yg bercerita menghukum muridnya yg terlambat datang dengan berdiri di depan kelas selama pelajaran berlangsung.
Niat sang guru memang baik, agar anak tidak lagi mengulangi perbuatannya, tapi caranya yg tidak tepat.
Coba perhatikan...., anak yg telat datang pasti punya masalah....bisa berbagai kemungkinan masalah yg dialami si anak..., mungkini rumahnya jauh, kendaraannya mogok, telat bangun karena membantu orang tuanya buat kue hingga larut atau kemungkinan karena kurang suka dengan pelajaran dan gurunya yg kurang ramah dan lain sebagainya....
Tugas guru sebenarnya adalah bukan untuk MENGHUKUM, melainkan MENOLONG si anak agar esok tidak telat lagi.. Caranya adalah dengan melakukan proses telusur.. apa yg menjadi penyebab pastinya. Kerena penyebab telat bagi anak A mungkin tidak sama dengan penyebab telat dengan anak B.
Setelah di ketahui pasti penyebabnya coba anak di ajak dialog kira2 apa yg bisa dilakukan bersama2 antara guru, anak dan orang tua bekerjasama agar anak tersebut tidak telat lagi datang ke sekolah. Hingga jika perlu membicarakan tentang konsekuensi yg di sepakati bersama.
Namun sayangnya banyak pendidik yg tidak melakukan hal ini, dan lebih memilih jalan pintas dengan cara menghukum dan strap berdiri di depan kelas, atau di berikan tugas dsb, Hukuman atau tugas sering kali sama sekali tidak nyambung dengan masalahnya juga sama sekali tidak memberikan solusi bagi si anak.
Hingga akhirnya dengan hukuman tadi anak menjadi TAKUT bukannya SADAR bahwa ia harus datang tepat waktu.
Maka jadilah anak2 tersebut terdidik menjadi generasi yg HANYA TAAT JIKA ADA YG MENGAWASI... karena TAKUT TERKENA SANGSI.
Contoh yg paling mudah kita temukan adalah di lampu merah...., orang2 melanggar lampu merah jika tidak ada yg mengawasi dan bukan menyadari bahwa jika lampu berwarna merah artinya harus berhenti dan menunggu giliran jalan saat lampu hijau.
Begitu pula dengan meng korup uang Rakyat dan Negara..., selama tidak ada yg mengawasi ya sikat saja... begitu pikirnya, karena begitu pulalah pola didik dan asuh yg di terimanya dulu semasa anak2 dan bersekolah.
Apakah anak2 kita kelak menjadi anak yg TAFT atau KERAS kita semualah (orang tua + guru) yg memutuskan melalui cara mendidik kita dirumah dan di sekolah.
Apakah anak2 kita kelak akan menjadi anak yg TAAT hanya jika ada yg MENGAWASI atau Sadar untuk berbuat semestinya, kita jugalah yg memutuskan melalu cara mendidik kita di rumah dan di sekolah.
Mengutip ucapan pak Munif Chatib:
" Sesungguhnya Orang tua dan guru memiliki kemampuan yg luar biasa untuk MEMBANGUN ATAU MALAH MENGHANCURKAN KARAKTER ANAK2 BANGSA"
Termasuk orang tua dan guru yg manakah kita...?
Mari kita renungkan....
Berikut adalah pengalaman seorang guru Les Piano tentang salah seorang muridnya yang bernama Wo Jin Yu .
Suatu ketika dia mendapatkan seorang murid yang bernama Wo jin yu yang berusia 12 tahun, Pada saat pertama kali mendaftar les ia di antar oleh ayahnya.
Pada hari pertama mengikuti kursus seperti biasa sang guru piano mengatakan bahwa ia senang sekali menerima Wo sebagai muridnya, karena usia Wo masih sangat muda dan itu akan sangat baik sekali karena pada usia dini biasanya seseorang akan sangat mudah sekali untuk di ajari seuatu terutama musik katanya.
Maka sejak hari itu Wo kecil mulai belajar bermain piano, namun saya melihat sepertinya dia kaku sekali, jari-jemarinya sulit sekali di gerakkan, selain itu sang guru piano juga mendapati bahwa Wo sangat tidak peka dengan bunyi-bunyi nada. Tapi tak apalah pikirnya karena mungkin ini hari pertamanya.
Namun demikian sepertinya Wo terus berusaha dengan keras untuk memainkan jari-jarinya di atas piano tersebut dengan bunyi yang tidak beraturan dan agak memekakan terlinga.
Beberapa bulan Wo telah mencoba mempelajari segala yang saya wajibkan untuk dipelajarinya, namun sepertinya tidak ada kemajuan yang begitu berarti. Sampai suatu ketika sempat terlontar kata dari saya bahwa sepertinya Wo tidak memiliki bakat yang cukup untuk menjadi seorang pianis yang baik.
Namun Wo mengatakan bahwa ia ingin bisa bermain piano karena ibunya ingin sekali ia bisa bermain piano. Dan Wo mengatakan bahwa ia sesungguhnya kurang menyukai piano namun ia begitu mencintai Ibunya. Sehingga ia akan terus berusaha untuk bisa bermain piano.
Karena sepertinya sulit sekali saya mengajarinya untuk bermain piano, suatu ketika saya katakan padanya bahwa mungkin ia bisa mempelajari alat musik lainya, Namun Wo dengan tegas mengatakan Tidak, saya harus bisa bermain piano, suatu saat ibu saya akan bisa mendengar saya bermain piano dengan baik. katanya mantap.
Setiap hari semangat Wo untuk bermain piano semakin tinggi dan ia terlihat semakin bekerja keras untuk bermain piano. Belakangan saya mengetahui bahwa dirumah pun ia terus berlatih piano siang dan malam.
Setiap hari Wo selalu di antar jemput oleh ayahnya. Namun sudah beberapa hari ini sepertinya Wo tidak datang untuk berlatih piano lagi, ada apa gerangan, dalam bathin saya bertanya-tanya. Tapi saya berpikir tak apalah mungkin saja pada akhirnya dia menyadari bahwa memang dia tidak berbakat untuk bermain piano dan memutuskan untuk berhenti. Ahrinya saya memutuskan untuk tidak menghubunginya.
Enam bulan setelah kejadian itu saya membagikan brosus pada para murid piano saya untuk memberitahukan bahwa dua minggu lagi akan di adakan konser musik piano di balai kota yang akan dimainkan oleh anak-anak murid asuhan saya. Namun saya agak terkejut ketika tiba-tiba Wo datang dan menyatakan ia ingin ikut serta dalam pertunjukan konser tersebut.
Lalu saya katakan sebenarnya pertunjukan konser itu hanya untuk murid-murid les saya saja, dan karena Wo sudah lama tidak les maka sepertinya Wo tidak bisa mengikutnya. Namun dengan nada serius dan setengah memaksa Wo meminta saya agar ia bisa mengikutinya. Ia berkata bahwa selama enam bulan ini ia tidak bisa datang Les karena ibunya sedang sakit dan ia tidak mau meninggalnya sendirian di rumah. Lalu dia juga meyakinkan saya bahwa meskipun tidak ikut les ia terus berlatih keras siang dan malam untuk bisa bermain piano. Dan dengan nada memelas dia berkata… Tolonglah bu beri saya kesempatan untuk bisa ikut serta dalam pertunjukan tersebut.
Saya berpikir jika Wo ikut mungkin bisa merusak pertunjukan yang ada nanti, tapi entah mengapa dari dalam bathin saya kok seperti ada dorongan kuat untuk memberikan kesempatan pada anak ini untuk mengikutinya hingga pada akhirnya saya pun mengijinkan Wo untuk ikut.
Malam pertunjukan datang. Balai Kotapun dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menempatkan Wo pada urutan terakhir persis sebelum saya tampil ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir dari konser malam itu. Saya rasa jika terjadi kesalahan yang buat oleh Wo di akhir acara nanti saya bisa menutupinya dengan permainan saya.
Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya sangat bagus. Lalu tibalah kini giliran Wo naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya agak berantakan saya berpikir dalam hati. “Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?” dan. “Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini saja..?”
Wo menarik kursi piano dan mulai bicara. Saya terkejut ketika Wo menyatakan bahwa dia telah memilih untuk memainkan karya Mozart’s Concerto #21 in C Major. Jantung saya berdebar keras menantikan apa yang akan terjadi karena saya tahu itu adalah tidak mudah apa lagi bagi seorang anak seperti Wo.
Namun tiba-tiba saja terdengar alunan nada yang begitu indah, terlihat ayunan jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari nari dengan indah dan gesitnya. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo… dari allegro ke virtuoso. sungguh sangat mengagumkan!
Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur anak 12 tahun sebagus dan seindah itu! Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar, dan tanpa sadar telah membuat semua orang terpana seolah tidak percaya pada apa yang mereka saksikan dan mereka dengar…namun taklama setelah itu terdengar tepuk tangan yang riuh dan sangat meriah.
Segera saja mata saya berlinangan air mata, saya segera naik ke panggung dan memeluk Wo dengan penuh rasa haru dan sukacita.”Saya belum pernah mendengar kau bermain piano seindah itu, Wo! Bagaimana kau melakukannya?” Melalui pengeras suara Wo menjawab, “Bu Yun Yi.. masih ingatkah ibu ketika saya berkata bahwa mama saya sedang sakit? Ya, sebenarnya mama saya sedang sakit kanker dan dia baru saja meninggal tadi pagi.
Tahukah ibu bahwa sebenarnya… mama saya itu tuli sejak lahir jadi aku yakin malam inilah pertama kali ia bisa mendengar suara aku bermain piano. Permainanku malam ini sengaja aku persembahkan khusus bagi mama ku sebelum ia pergi menemui Tuhannya.”
Tak satupun dari para penonton yang hadir malam itu yang kuasa untuk menahan airmatanya, bahkan dari beberapa sudut ruangan terdengar beberapa isak tangis penuh keharuan.
Ketika panitia membawa Wo turun dari panggung ke ruang istirahat, saya segera menyadari meskipun mata saya masih merah dan bengkak penuh keharuan, namun saya begitu bersyukur betapa hidup saya jauh lebih berarti karena pernah menerima Wo sebagai murid saya.
Selama ini saya selalu merasa saya adalah guru bagi mereka, tapi malam ini saya merasa menjadi seorang murid yang telah di beri pelajaran berharga oleh Wo. Dialah sesungguhnya gurunya, guru kehidupan bagi saya dan sayalah muridnya. Karena malam ini Wo mengajarkan pada saya arti sebuah kerja keras, cinta kasih dan keberhasilan.
Jika Anda termasuk orangtua yang getol memaksa anak untuk membaca buku pelajarannya, hati-hatilah. Jangan sampai anak Anda justru ketagihan belajar sehingga tidak bisa menimati hidup. Kalau sudah begini, dibutuhkan kekuatan polisi untuk menyetop nafsu belajar anak Anda.
Inilah yang terjadi di Korea Selatan.
Kehidupan di Korea Selatan memang kompetitif. Semua orang ingin anaknya menjadi yang terbaik dari segi akademik. Kawan saya di sana berkisah anaknya yang baru menginjak umur 3 tahun sudah harus masuk sekolah berasrama (boarding school) dari Senin hingga Jumat. Otomatis hanya 2 hari bertemu dengan ayah-bundanya tersayang.
Sori yah, kata saya. Saya nggak tegaan sama anak sampai segitunya. Kalau anak saya menginjak umur 3 tahun nanti palingan masih santai-santai di rumah main sama neneknya.
Saya (dulu) pernah meyakini kompetisi akan mengekstrak kualitas terbaik dari seorang manusia. Ibarat evolusi, kompetisi akan mempertahankan hanya yang terbaik dan yang lemah akan pupus.
Tetapi efek negatifnya tentu ada. Kehidupan kompetitif akan memicu stres. Kita semua tahu apa akibat dari kehidupan yang penuh dengan tekanan; kesehatan kita tergerogoti sehingga mati pelan-pelan, atau mati cara ekspres dengan bunuh diri. Tak heran Korea Selatan mencatat angka bunuh diri TERTINGGI di antara 30 negara maju, melebihi angka bunuh diri negara Jepang.
Itukah yang kita inginkan dalam kehidupan ini? Sukses di usia muda tapi mati pun di usia muda?
Menyadari hal ini, Pemerintah Korea Selatan mengambil tindakan drastik dengan menghentikan kegiatan belajar anak-anak yang dirasa berlebihan. Seperti diberitakan Time Magazine baru-baru ini, pemerintah negeri ginseng itu menurunkan tim kecil berkekuatan 5-6 orang untuk merazia anak-anak yang masih belajar setelah jam 10 malam. Yang menjadi sasaran utama adalah tempat-tempat les/bimbingan belajar yang dikenal dengan nama hagwon. Saking gilanya nafsu belajar anak-anak Korea ini, jumlah pengajar hagwon jauh lebih besar dibanding jumlah guru sekolah.
Apakah anak-anak Korea memang rajin sehingga keranjingan belajar? Tidak juga. Jurnalis Time mendapati mereka bekerja keras (work hard), tetapi tidak bekerja secara cerdik (work smart). Contohnya, anak-anak ini tidur dalam kelas, tetapi malamnya belajar sampai dinihari. Mereka hanya tidur 5-6 jam sehari dari yang seharusnya 9 jam. Seandainya mereka memusatkan perhatian di dalam kelas, niscaya mereka tidak perlu mengikuti les ini-itu di malam hari.
Sebagai perbandingan adalah negara Finlandia sebagai satu-satunya negara maju yang mencatat hasil ujian akademik anak usia 15 tahun sebanding dengan Korea, hanya 13% anak sekolah yang mengambil les tambahan di malam hari. Jadi sebenarnya les-les semacam itu tidak perlu jika si anak benar-benar memusatkan perhatian di sekolah.
Kegilaan belajar anak Korea juga diakibatkan oleh kompetitifnya proses masuk ke perguruan tinggi. Hanya ada tiga perguruan tinggi top di Korea Selatan yang diperebutkan oleh 580 ribu lulusan sekolah menengah. Tingkat penerimaan hanya 14%. Yang gagal biasanya mengambil les hagwon, dan setelah bekerja keras bagai kesetanan selama 2 minggu untuk ujian ulang, 70% di antara mereka bisa masuk ke perguruan tinggi top tersebut.
Saya kadang-kadang kasihan melihat anak-anak Asia. Bukan cuma anak-anak Korea, tetapi Singapura, China, dan juga mulai menjangkiti Indonesia. Siapa sih yang menghendaki anak-anak ini belajar keras? Si anak sendiri atau orangtua? Di Korea, terbukti orangtua menjadi faktor penekan yang menyebabkan anak gila belajar. Orangtua ingin anaknya berhasil secara akademis, dan anaknya menjadi sasaran tekanan.
Saya masih ingat dulu sekali, kalau rapor saya dan teman-teman ada angka merahnya, orangtua memarahi kita. Kini lain cerita. Kalau ada angka merah, orangtua memarahi sang guru. Ini adalah salah satu bukti bahwa ambisi terbesar untuk melihat kesuksesan si anak justru ada pada orangtua.
Juga anak-anak sekarang, usia balita sudah diikutkan les macam-macam. Les balet, les musik, les bahasa, les bela diri. Ini semuanya bukan permintaan si anak, tapi ambisi orangtua untuk melihat anaknya sukses di usia muda. Si anak sendiri tak peduli apakah dia bisa balet atau berkarate.
Di Singapura biasanya antar orangtua saling membanding-bandingkan. Kalau tetangga sebelah mengirim anak balitanya les balet, dia akan menanyai kita dengan nada sinis, “Anakku sudah bisa berbalet, anakmu bisa apa?” Sebagai orangtua tentu akan merasa panas hati dan terpaksa mengirim si anak berbalet ria walaupun si anak sendiri amsih mau bermain saja di rumah. Budaya ini (saling membandingkan) diistilahkan sebagai “kiasu” di Singapura.
Saya dulu umur 5 tahun masih main gundu dan layangan. Malah masih pakai empeng. Berhitung pun baru lancar pada saat kelas 2 SD. Toh bisa meraih gelar doktor di usia sebelum 30 tahun. Saya justru belum melihat bukti anak-anak jaman sekarang yang dicekoki oleh orangtuanya ini mampu meraih kesuksesan. Jangan-jangan malah bunuh diri karena stres!
Sumbar: Kompasiana.com
JIKA ANDA SEPENDAPAT DENGAN ISI ARTIKEL INI TOLONG BANTU SEBARKAN KE SEBANYAK2NYA ORANG TUA, GURU DAN PIMPINAN2 NEGERI INI YG ANDA KENAL, DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA APAPUN YG BISA MENJANGKAU MEREKA, FB, EMAIL, MILIS, FOTO COPY DSB.
Jika bukan kita berusaha yg mengubah negeri ini mau siapa lagi, jika bukan sekarang waktunya mau kapan lagi..? Jika kita mau PASTI BISA !!!!
Ditulis oleh Rhenald Kasali di koran Sindo 14 Juli 2011
Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.
Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook, Twitter, online games, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistic, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?
Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit"The Power of Simplicity", kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".
Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.
Ubah Cara Pandang
Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”. Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.
Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.
Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh . Leadershipmaupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.
Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng kekiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"
Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.
Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.
Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.
Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?
Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?
Rhenald Kasali
Ketua Program Magiter Manajemen - UI
Jika anak kita sebelumnya ceria kemudian sekarang menjadi pemurung
Jika sebelumnya anak kita banyak bergerak sekarang jadi pasif dan malas.
Jika sebelumnya anak kita banyak bertanya sekarang jadi pendiam.
Jika sebelumnya anak kita baik2 saja sekarang menjadi mudah sekali marah.
Jika sebelumnya anak kita baik2 saja sekarang suka mengganggu saudaranya.
Jika sebelumnya anak kita PD dan sekarang menjadi peragu dan pemalu.
Jika sebelumnya anak kita suka berkreasi dengan benda apa saja, menggambar, bernyanyi dan kini lebih suka diam dan tidur bermalas2an.
Jika sebelumnya ia peduli dan penuh perhatian tapi sekarang cuek dan acuh
Jika sebelumnya dia sayang dan dekat pada orang tuanya tapi sekarang malah menjauh..
Jika sebelumnya anak kita prilakunya baik2 saja namun sekarang berubah drastis menjadi sangat negatif
Maka kemungkinan besar kita telah salah memilihkan sekolah baginya...., fenomena ini kerap terjadi pada anak yg bersekolah baik pada tingkat TK, SD dan terus berlanjut hingga SMP dan SMA.
Banyak sekolah yg mengaku unggulan dan Favorit...., tapi jika setelah anak bersekolah di sana, kemudian muncul gejala2 semacam ini, itu artinya yg unggul hanya Spanduknya saja.
Ciri2 sekolah yg unggul adalah sekolah yg selalu mengajak orang tua untuk bekerjasama mengatasi setiap masalah dan prilaku anak secara bersama2, KARENA DALAM BANYAK KASUS PRILAKU ANAK YG BERMASALAH DI SEKOLAH JUSTRU BERAWAL DARI POLA ASUH ORANG TUANYA DIRUMAH.
Sekolah yg baik akan terus membangun komunikasi mengenai perkembangan prilaku setiap anak, serta mampu mempertahankan dan mengembangkan ciri-ciri fitrah yg muncul saat mereka masih usia balita, yakni selalu ceria, suka bergerak dan beraktifitas, selalu ingin tahu dan berekplorasi, suka bertanya tanpa takut salah atau di persalahkan, Sangat penuh percaya diri, suka berkreasi, menggambar, bernyanyi dsb.
Mengapa ini perlu di pertahankan dan di pupuk hingga ia dewasa....? karena ini adalah fitrah bawaan lahir seorang anak dan sekaligus merupakan ciri2 yg dimiliki orang2 yg sukses di kehidupan nyata.
Biasanya sekolah2 unggul malah jarang yg mengaku dirinya sekolah unggulan..., itulah mengapa sering kali kita sulit menemukannya meskipun terkadang berada dekat dengan wilayah tempat kita tinggal. Semoga melalui forum dan komunitas ini kita bisa berbagi informasi mengenai sekolah2 yg baik dan benar-benar favorit bagi anak2 kita.
Selamat beraktivitas !!!! Lets Make Indonesian Strong from Home
copas dari akun fb Komunitas Ayah Sudah Penuh